Menghadapi Permasalahan Di Era Globalisasi

Pada era globalisasi persaingan di dunia akan semakin ketat. Kualitas sumberdaya, khususnya sumberdaya manusia (SDM) menjadi faktor penentu kemandirian suatu bangsa. Alwi Dahlan (1996) membagi makna globalisasi menjadi dua pemaknaan, yaitu: pertama, globalisasi diartikan sebagai proses meluasnya atau mendunianya kebudayaan manusia, karena difasilitasi media komunikasi dan informasi yang mendukung kearah perluasan kebudayaan. Pemaknaan kedua, globalisasi diartikan proses ruang menyempitnya ruang gerak budaya manusia.[1] Kata “sempit” disini bermakna jarak atau batas geografis menjadi hal yang tidak begitu berarti atau terasa dekat. Sedangkan menurut Scholte globalisasi dapat diartikan sebagai meningkatnya hubungan internasional. Namun tentu saja dalam hal ini masing-masing negara tetap harus mempertahankan identitasnya masing-masing, walaupun akan semakin tergantung satu sama lain. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya globalisasi merupakan sebuah proses yang akan membentuk sebuah tatanan atau kehidupan yang seolah-olah tanpa batas geografis, batas ekonomi, maupun budaya.

Permasalahan Menyambut Era Globalisasi

Menyambut era globalisasi berbagai permasalahan kerap dialami oleh negara-negara di kawasan Asia. Salah satu masalahnya adalah perubahan struktur demografi. Negara-negara seperti Jepang, Taiwan, Korea Selatan, dan juga Thailand akan mengalami penuaan populasi. Negara-negara tersebut akan kehilangan satu generasi yang implikasinya dapat membawa perubahan terhadap perekonomian negaranya. Menurut pakar ekonomi Muhammad Chatib Basri, perubahan demografi tersebut kemungkinan akan menyebabkan produktivitas menurun. Hal ini terjadi karena adanya penurunan jumlah penduduk usia produktif yang akan mengakibatkan menurunnya pendapatan nasional. Peningkatan penduduk lansia tentunya akan menyebabkan beban yang lebih berat dalam tunjangan sosial yang harus dipikul negara sementara disisi penerimaannya akan semakin kecil. Akibatnya, diduga negara akan mengalami defisit anggaran yang membengkak.

Menariknya, negara-negara seperti Indonesia, India, dan China justru akan mendapat keuntungan dari perubahan demografi tersebut. Sementara negara lain kesulitan karena posisi demografi yang berubah, Indonesia, India, dan Cina justru diperkirakan akan mendapatkan bonus demografi dalam beberapa tahun kedepan. Bonus demografi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan peningkatan usia produktif di suatu negara. Bonus demografi itu sendiri dapat memicu pertumbuhan ekonomi yang tinggi jika didukung oleh kualitas SDM yang tinggi. Kementerian Koordinator Perekonomian mengatakan rasio ketergantungan (dependency ratio) atau rasio antara indeks usia non-produktif dibagi usia produktif di Indonesia berada di level terendahnya, di bawah 50%.[2] Sebab itulah, akan ada tenaga kerja produktif yang pada saatnya akan meningkatkan produktivitas nasional. Hal ini teramat penting untuk pertumbuhan ekonomi. Pada periode ini, jumlah penduduk usia produktif (15-64) akan meningkat yang diperkirakan tahun 2020-2030. Pada periode sama, jumlah anak-anak (0-14) yang disebabkan adanya program keluarga berencana akan menurun, akibatnya usia manula 65 tahun ke atas naik sehingga keuntungan usia produktif akan terjadi.

Meskipun sudah diprediksi, bonus demografi tidak akan tercapai bila tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya. Jika tidak disiapkan dengan baik, bonus demografi hanya akan meningkatkan angka pengangguran yang justru malah akan menjadi beban negara. Untuk itu negara-negara yang diprediksi akan mendapatkan bonus demografi harus berada di posisi positive economic nationalism yaitu menghendaki setiap negara memikul tanggungjawab secara optimal untuk meningkatkan kemampuan masyarakat agar tercipata kehidupan produktif, namun disaat bersamaan harus tetap meningkatkan kerjasama dengan negara lain agar peningkatan tersebut tidak merugikan bangsa lain.[3] Oleh karena itu diperlukan kerjasama antar negara asia yang tentunya bisa saling menguntungkan masing-masing negara, terutama di bidang pendidikan karena seperti yang kita ketahui pendidikan merupakan pilar dalam membangun suatu bangsa.

Kerjasama antar Negara Asia

Pendidikan adalah program strategis jangka panjang. Persaingan di era global dalam aspek apapun pada dasarnya ditentukan oleh pondasi dasar yaitu SDM. Karena itu, kerja dan perbaikan serta peningkatan bidang pendidikan tidak bisa dijalankan secara reaktif, sambil lalu dan sekenanya, melainkan mesti dengan cara pro-aktif, intensif dan strategis.[4] Pendidikan merupakan investasi bagi suatu bangsa karena akan menentukan kualitas SDM suatu bangsa. Telah banyak kajian tentang faktor-faktor penentu suatu negara, namun demikian yang memiliki kemampuan SDMlah yang pada akhirnya menentukan kemenangan bersaing, karena merupakan satu-satunya sumber daya yang aktif, sedang sumber daya lainnya pasif.[5]

Negara-negara di kawasan Asia dapat menjalin hubungan kerjasama di bidang pendidikan dengan mengadakan program beasiswa dan pertukaran pelajar. Para pelajar yang merupakan modal nyata SDM diberikan pengetahuan untuk menjadi tenaga kerja yang berkualitas di masa mendatang. Program beasiswa yang disponsori oleh negara-negara luar dapat memberikan kemudahan para pelajar di negara kita untuk menuntut ilmu di negara lain di Asia, selain itu program pertukaran pelajar lintas negara di Asia bisa lebih digalakan. Melalui program tersebut pelajar-pelajar yang pergi ke luar negeri tidak hanya dapat menambah kemampuan akademiknya namun bisa menambah pengetahuan mengenai kebudayaan negara tersebut dan memperkenalkan kebudayaan bangsa kita. Selain itu kerjasama di bidang pendidikan dapat dilakukan melalui pelajar di sekolah menengah kejuruan (SMK). Tentu sebelumnya harus dilakukan perubahan secara mendasar terhadap model penyelenggaraan pendidikan kejuruan di Indonesia. Dari segi sistem, pendidikan yang berlaku di sekolah kejuruan harus disesuaikan dengan tuntutan dunia usaha/industri. Jika hal tersebut sudah diterapkan, tidak ada larangan untuk mengirimkan tamatan SMK ke luar negeri. Bekerjasama dengan negara-negara maju di Asia, Depdiknas dapat memagangkan sebagian siswa SMK ke luar negeri seperti Jepang dan Korea Selatan. Dengan cara ini, negara kita dapat memiliki tenaga kerja berwawasan internasional dan tentu saja berstandar kualitas internasional.

Tidak hanya untuk para pelajar, para pendidikpun harus memiliki pengalaman yang kuat dan luas sehingga mampu menjadi tenaga pendidik yang benar-benar mempersiapkan siswanya untuk menjadi tenaga kerja yang handal. Hal ini disebabkan karena para pendidik diyakini sebagai salah satu faktor dominan yang menentukan tingkat keberhasilan anak didik dalam melakukan proses transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi serta internalisasi etika dan moral[6]. Memberi pembekalan wawasan bisa dilakukan dengan mengadakan pelatihan sebagai bekal bagi para pendidik, pelatihan juga bisa dilakukan di dalam negeri dalam bentuk seminar, diskusi ataupun workshop yang bekerja sama dengan menghadirkan para narasumber dari negara lain. Selain itu para calon pendidik juga tidak luput dari pelatihan tersebut.

Kembali ke permasalahan mengenai bonus demografi, melalui pendidikan yang baik bonus itu juga dapat dimanfaatkan dengan baik. Ini diyakini karena negara-negara yang memiliki bonus tersebut telah memiliki dasar yang kuat yaitu SDM yang berkualitas, sehingga bisa menghasilkan tenaga kerja yang berdedikasi tinggi. Dengan tenaga kerja yang berkualitas dan berdedikasi tinggi secara otomatis akan berpihak kepada peningkatan perekonomian yang baik. Negara-negara di Asia bisa tetap menjalin kerjasama apabila ada kesepakatan dan kesepahaman yang saling menguntungkan, bisa dengan cara mengirimkan tenaga kerja produktif dari negara-negara yang memiliki bonus demografi untuk bekerja ke negara-negara yang jumlah penduduk produktifnya menurun. Dengan demikian, mengirimkan tenaga kerja keluar negeri merupakan salah satu solusi dalam menciptakan lapangan pekerjaan. Masalah kurangnya lapangan pekerjaan di negara-negara seperti Indonesia dan India tidak akan terjadi dan masalah kekurangan tenaga kerja produktif seperti yang dialami Negara Jepang, Taiwan, Korea Selatan, dan Thailand juga bisa diatasi. Kerjasama di bidang ekonomi, baik di bidang produksi maupun di bidang investasi juga bisa dilakukan guna menambah lapangan pekerjaan. Negara-negara lain bisa menanamkan investasinya di Indonesia maupun sebaliknya, contohnya pengusaha Jepang boleh mendirikan pabrik mobil di Indonesia, begitu juga orang Indonesia diperkenankan mendirikan pabrik kerajinan rotan disana. Demikian hal tersebut merupakan upaya-upaya untuk menghadapi permasalahan dalam menyambut era globalisasi ini, kerjasama ini diharapkan bisa saling menguntungkan bagi Negara-negara di Asia. (Afriati Rusmana Pend. IPS 2010)

[1] Sri Wuryan & Syaifullah, Ilmu Kewarganegaraan (Civics), (Bandung: Laboraturium Pendidikan Kewarganegaraan, 2009) h.141.

[2] Vina Ramita, “Bonus Demografi di Depan Mata”, INILAH.COM, diakses dari http://www.inilah.com/read/detail/133279/bonus-demografi-di-depan-mata, diakses pada tanggal 18 Maret 2011 pukul 05.05 WIB

[3] Mochtar Mas’oed (1998:211)

[4] Indra Djati Sidi, Menuju Masyarakat Belajar, (Jakarta: Paramadina, 2001) h.4

[5] Ibid; h.110

[6] Ibid; h.37

One Comment to “Menghadapi Permasalahan Di Era Globalisasi”

  1. Hi, this is a comment.
    To get started with moderating, editing, and deleting comments, please visit the Comments screen in the dashboard.
    Commenter avatars come from Gravatar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *