Implementasi Model Controversial Issues Terhadap Pembelajaran Ips Dalam Menumbuhkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa

Abstrak

Penelitian ini di latar belakangi dengan masih seringnya menggunakan metode ceramah dalam mata pelajaran IPS sehingga proses pembelajaran terlihat sangat membosankan bagi siswa. Adapun berdasarkan latar belakang pada bab I maka peneliti merumuskan masalahnya yaitu 1) Bagaimanakah desain perencanaan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model Controversial Issues pada Pembelajaran IPS  dalam Menumbuhkan Berpikir Kritis?. 2) Bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran isu-isu kontroversial pada pembelajaran IPS sehingga dapat Menumbuhkan Berpikir Kritis Siswa?. 3) Apakah kendala yang dihadapi oleh guru dalam Implementasi Model Controverssial Issues pada pembelajaran IPS dalam menumbuhkan berpikir Kritis Siswa?. 4) Bagaimana solusi untuk mengatasi kendala yang muncul pada saat penerapan pembelajaran IPS dengan menggunakan model pembelajaran Controversial Issues?. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran IPS. Metode yang digunakan adalah metode Penelitian Tindakan Kelas  (PTK) dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Teknik Pengumpulan data yang di gunakan adalah dengan melalui catatan lapangan, observasi, wawancara dan angket siswa. Hasil penelitian yang di peroleh adalah: (1) peneliti dengan guru mitra melakukan persiapan dengan menyusun RPP dan silabus dengan model controvesial issues, (2) model controversial issues mampu menumbuhkan berpikir kritis dengan  siswa berani untuk bertanya dan menjawab pertanyaan, siswa berani untuk berbeda pendapat dan menyanggah pendapat dengan orang lain, 3) kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan model controversial issues ini adalah masih banyak siswa yang ribut di kelas dan guru kurang memaksimalkan waktu yang telah di tetapkan, (4) upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut adalah guru harus bersikap tegas dan mengkondisikan kelas dengan baik sehingga tujuan dari penerapan model controversial issues dapat tercapai dengan baik. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah menjadikan pembelajaran IPS lebih menarik.Tetapi  guru-guru IPS masih banyak yang enggan untuk menggunakan model controversial issues dalam mata pelajaran IPS karena isu-isu kontroversial di anggap banyak mengungkapkan hal-hal yang di nilai tabu oleh guru dan belum pantas untuk di berikan kepada siswa. Guru-guru IPS di sekolah di sarankan jangan merasa canggung untuk menerapkan model pembelajaran controversial issues di kelas karena model ini dapat melatih siswa terbuka dengan permasalahan yag terjadi sehingga dapat menumbuhkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis.

Kata kunci : Controversial Issues, Pembelajaran IPS, dan Berpikir kritis.

1. Pendahuluan

            Berdasarkan data yang di temukan dari hasil pra penelitian di SMP Negeri 40 Bandung ketika peneliti melakukan pra penelitian pada pembelajaran IPS di kelas VIII- I, ditemukan permasalahan kemampuan siswa dalam mengemukakan pendapatnya didalam proses pembelajaran di kelas masih rendah. Hal ini terlihat dari : pertama, selama proses kegiatan pembelajaran berlangsung partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran, seperti bertanya, menanggapi, maupun menjawab pertanyaan dari guru hampir tidak ada, sehingga kelas VIII-I menjadi kelas yang pasif. Ketika guru melakukan sesi tanya jawab dengan siswa, para siswa kurang memberikan respon yang baik, hanya ada satu sampai dua orang saja yang merespon pertanyaan guru, siswa yang lain malah sibuk dengan aktivitasnya seperti masih ada yang bermain handphone saat kegiatan pembelajaran berlangsung, masih ada yang mengobrol dengan temannya,  ada yang asyik bergurau dengan teman sebangkunya, mereka merasa tidak mempunyai rasa takut sedikitpun.kedua,saat proses kegiatan diskusi berlangsung interaksi belajar siswa kurang terlihat dalam kegiatan diskusi berlangsung, dan hanya didominasi oleh beberapa siswa yang aktif dalam mengemukakan pendapatnya dan masih belum bisa beradu pendapat dengan siswa lainnya.

            Menurut pendapat Sapriya (2012: 200) memberikan pernyataan bahwa untuk jenjang SMP/ MTS, pengorganisasian materi mata pelajaran IPS menganut pendekatan korelasi (correlated), artinya mata pelajaran dikembangkan dan disusun mengacu pada beberapa displin ilmu secara terbatas kemudian dikaitkan dengan aspek kehidupan nyata (factual/real) peserta didik sesuai dengan karakteristik usia, tingkat perkembangan berpikir, dan kebiasaan bersikap dan berperilaku.

            Dari tujuan yang diungkapkan diatas maka pembelajaran IPS mempunyai kontribusi dalam upaya mencapai tujuan pendidikan nasional adalah pertama, dapat mendewasakan peserta didik dalam merealisasikan dirinya (self relization) melalui penerapan pengetahuan, pemahaman, keterampilan, sikap dan nilai, kedua, dapat mendewasakan peserta didik melalui pengembangan kemampuan dan penguasaan berbagai hal, ketiga, lebih meningkatkan dan mempertajam kemampuan berpikir tingkat tinggi (thinking ability), kreatif, kritis dan mampu mengambil keputusan dengan tepat dan mandiri, keempat, membantu peserta didik untuk memperoleh keterampilan sosial (social skill) seperti keterampilan berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan Banks, (1997:4) dalam Sumaatmaja (1980:20).

            Permasalahan sekarang adalah apakah pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial telah mampu merangsang siswa untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis?. Sehingga sering terdengar bahwa mata pelajaran IPS dianggap remeh oleh siswa, hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Wiriatmadja (2002:133), yaitu “Banyak siswa yang mengeluhkan bahwa pembelajaran IPS itu sangat membosankan karena isinya hanya merupakan hafalan saja dari tahun ke tahun, tokoh dan peristiwa sejarah saja. Segudang informasi dijejalkan begitu saja kepada siswa dan siswa tinggal mengahafalnya diluar kepala. Memang “menghafal” atau “mengingat” adalah salah satu cara belajar, seperti halnya menirukan (imitating atau copying), mencoba-coba dengan trial and error, kadang-kadang juga kita berpikir atau merenungkan apa yang kita lihat dan kita alami dengan hasil yang berbeda-beda”. Munandar (1999: 156) mengemukakan bahwa cara yang paling baik bagi guru untuk mengembangkan kreativitas siswa adalah dengan mendorong motivasi intrinsik peserta didik. Harus diakui bahwa guru tidak dapat mengajarkan kreativitas tetapi guru mampu menumbuhkan kreativitas siswa.

            Mata pelajaran IPS bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa kehidupan masyarakat. (Nursid Sumaatmaja, 1980:20). Bahwa tujuan dari IPS sendiri adalah untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat yang dinamis. Mata pelajaran IPS juga disusun secara integarated atau terpadu sehingga semua nilai-nilai terdapat dalam setiap mata pelajaran ilmu-ilmu sosial. Isu kontroversial merupakan isu yang banyak dijumpai dalam banyak peristiwa sosial. Materi yang terdapat dalam buku panduan siswa seringkali berbeda dengan apa yang diperoleh siswa dari hasil mencari informasi lewat internet, membaca, dan media massa. Selain itu melalui pengajaran dengan menggunakan isu kontroversial dalam pembelajran IPS, perbedaan pendapat dapat mendorong siswa untuk berani mengemukakan pendapat.

   Isu-isu dalam kehidupan manusia yang senantiasa muncul serta memiliki pengaruh yang sangat penting. Oleh karena itu menurut (Hassan, 1996:204) melalui pembelajaran IPS dengan  penerapan model isu kontroversial para siswa diharapkan:

(1) memahami dan menyadari betapa interaksi antara pelaku  dengan lingkungan dan peristiwa yang ditimbulkan, didalam sejumlahmnya mengandung sejumlah isu  dan persoalan, dan isu atau persoalan ada alternatif  penyelesaiannya yang merupakan interaksi antara pelaku, (2) memberi kesempatan yang luas pada siswa untuk berperan sebagai warga negara dan masyarakat dengan berpartisipasi dalam memecahkan berbagai isu di lingkungan yang terdekat dengan kehidupannya.

Dalam tingkat awal sebaliknya pengajaran isu kontroversial tidak terlalu mengungkapkan banyak isu yang berbeda. Dua atau tiga isu yang berbeda sudah dapat dianggap cukup. Semakin lama semakin mampu siswa yang berbeda lebih banyak maka jumlah isu kontroversial pun dapat ditingkatkan. Meskipun demikian tetap harus diingat bahwa jumlah ini bukan menjadi tujuan utama, tetapi kemampuan siswa dalam berbeda pendapat dan toleransi berpendapat merupakan tujuan (Hassan, 1996:204).

     Pada saat pembelajaran IPS di kelas dengan menggunakan metode isu-isu kontroversial guru harus memahami kekurangan dan kelebihan dari metode yang telah diterapkan di kelas. Adapun kelebihan dari metode isu-isu kontroversial ini adalah sesuai dengan yang diungkapkan oleh Roestiyah (2008:94), yaitu:

Dengan pembelajaran isu-isu kontroversial siswa akan mengamati, memikirkan dan bertindak menghadapi situasi tertentu, siswa lebih menyakini apa yang diamati dan menemukan banyak cara untuk pengamatan atau pencarian jalan keluar. Pengamatan seperti diatas akan membantu siswa mengembangkan daya berpkirnya secara sistematis dan logis, sehingga siswa mampu mengambil keputusan yang tepat. Pembelajaran yang menyajikan isu kontroversial akan membantu siswa dalam mengambangkan daya intelektual dan keterampilan berkomunikasi secara lisan maupun secara tulisan.

Dapat di tekankan bahwa pembelajaran IPS dengan menggunakan metode isu kontroversial dapat melatih siswa untuk dapat mengembangkan dan mengasah potensi kemampuan yang ada dalam dirinya menjadi lebih peka terhadap keadaan disekitarnya dan mampu berpikir kreatif yang didasarkan pada masalah-masalah yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajran isu kontroversial pada pembelajran IPS dapat melatih siswa untuk berpikir kritis.

Sejalan dengan pendapat di atas Edwar Glaser (1941:5) dalam Fisher (2008:3) mendefinisikan berpikir kritis sebagai:

 (1) suatu sikap mau berpikir secara mendalam tentang masalah-masalah dan hal-hal yang berada dalam jangkauan pengalaman seseorang; (2) pengetahuan tentang pemeriksaan dan penalaran yang logis; dan (3) semacam suatu keterampilan untuk menerapkan metode-metode tersebut. Berpikir kritis menururt upaya keras untuk memeriksa setiap keyakinan atau pengetahuan asumtif berdasarkan bukti pendukungnya dan kesimpulan-kesimpulan lanjutan yang diakibatkannya.

Dimensi berpikir sebagai proses yang bersifat pribadi dan internal yang dapat berawal dan berakhir pada dunia luar atau lingkungan seseorang. Dimensi kedua persepsi dan konsepsi sebagai perantara dari pengalaman langsung dan konsep abstrak dalam pikiran merefleksikan siklus umum inkuiri yang bermula dari kegiatan mendefinisikan masalah, melakukan eksplorasi, mengintegrasikan gagasan dan berakhir pada pengambilan keputusan dan mengaplikasikan gagasan.

 2. Metode penelitian

     Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Di laksanakan di SMP Negeri 40 Bandung.Alasan peneliti memilih kelas VIII-I adalah karena dikelas ini di temukan permasalahan yang sesuai dengan judul skripsi peneliti, yang harus diperbaiki dalam proses belajar mengajar di kelas VIII-I.Kolaborator peneliti adalah guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kelas VII dan kelas VIII, yaitu bapak Drs. Arjun Subadri. Adapun yang menjadi subjek penelitian adalah siswa kelas VIII – I berjumlah 37 orang, yaitu terdiri dari 16 orang siswa laki-laki dan 21 orang siswa perempuan. Desain yang di gunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan desain Kemmis dan Mc Taggart, dalam setiap siklus berisi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan beberapa metode adalah observasi, wawancara, catatan lapangan dan angket. Kemudian dalam teknik menganalisis data peneliti menggunakan teknik analisis kualitatif dan kuantitatif. Setelah data terkumpul peneliti menganalisis, mereduksi dan menyimpulkan data.

            Menurut Sugiyono (2010:89) analisis data adalah:

Proses mencari dan menyususun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, observasi, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami diri sendiri dan orang lain. Analisis data kualitatif bersifat induktif, yaitu analisis data berdasarkan data yang diperoleh selanjutnya dikembangkan menjadi hipotesis.

       Dalam hal ini dilakukan setiap siklus penelitian tindakan kelas sehingga penelitia akan menilai setiap tindakan dalam proses pembelajaran, dan selanjutnya akan memutuskan perencanaan untuk siklus berikutnya. Analisis data kuantitatif di sini, hanyalah statistik sederhana yaitu menggunakan pengolahan data microsoft exel dengan mempresentasekan peningkatan berpikir kritis siswa dari siklus satu ke siklus berikutnya. Sedangkan data kuantitaif dalam menganalisis hasil observasi aktivitas guru dan aktivitas siswa dengan cara menghitung persentase setiap kategori untuk setiap tindakan. Adapun cara penghitungannya yaitu sebagai berikut:

Persentase aktivitas guru =    perolehan skor X 100 %

                                  Seluruh aktivitas

Persentase aktivitas siswa =    perolehan skor X 100 %

                                  Seluruh aktivitas

       Setelah dihitung kemudian hasilnya diklasifikasikan sesuai dengan klasifikasi, adapun klasifikasi tersebut yaitu sebagai berikut:

Rentang skor

Kategori

85 % – 100 %

Sangat baik

70  % – 84  %

Baik

55 % – 70 %

Cukup

40 % – 54  %

Kurang

          Angket digunakan untuk mengumpulkan data mengenai kemampuan siswa dalam mengambangkan berpikir kritis melalui penerapan model pembelajaran Controverssial Issues. Penilaian angket ini adalah dengan menggunakan penilaian skala sikap yaitu  dari kriteria penskoran sangat baik (SB), Baik (B), cukup (C), dan Kurang (K). Kemudian hasil data kualitatif diubah kedalam skala kuantitaif. Untuk mengukur data angket digunakan rumus sebagai berikut:

           P = F   X  100%

               N

keterangan:

P = frekuensi jawaban seluruh siswa, F= frekuensi jawaban, N = banyak                        responden

             Setelah dianalisis kemudian dilakukan interpretasi untuk mempermudah dalam mengambil kesimpulan dalam penyajian hasil penelitian, maka penulis menggunakan istilah yang dikemukakan oleh A. Suryadi (1987 : 70) dan diklasifikasikan sebagai berikut:

0 %                         = di tafsirkan tidak ada

1 % – 49 %              = di tafsirkan sebagian kecil

50 %                       = di tafsirkan setengahnya

51% – 75%              = di tafsirkan sebagian besar

76 % – 99%             = di tafsirkan hampir selurhnya

100%                      = ditafsirkan seluruhnya

4. Hasil Penelitian Dan Pembahasan

            Berdasarkan analisis kualitatif dan kuantitatif dan dengan melihat peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajran IPS.Maka penerapan model pembelajaran Controverssial Issues dianggap cocok oleh peneliti dalam pembelajaran IPS karena sesuai dengan tujuan peneliti yaitu untuk menumbuhkan berpikir kritis siswa. Karena ruang lingkup mata pelajaran IPS banyak terjadi dalam kehidupan sekitar lingkungan siswa, materi yang terkandung dalam mata pelajaran IPS banyak sekali di temukan dalam kehidupan masyarakat. Sehingga peneliti berusaha mengangkat suatu topik atau kasus yang kontroversial. Dengan menggunakan kasus atau topik yang kontroversial peneliti lebih mudah mengarahkan siswa untuk mengembangkan pemikirannya kearah berpikir kritis.

            Indikator pencapaian yang terlihat adalah guru selalu melibatkan siswa dalam proses pembelajaran (teachered centered) guru selalu menyakan hal-hal yang sederhana tetapi mampu mengasah kemampuan berpikir siswa menajdi berpikir kritis, yaitu pada saat menjelaskan materi tentang “pajak” pada siklus kedua ada seorang siswa yang bertanya “apakah guru yang mengajar di sekolah swasta itu di gaji sama seperti guru yang mengajar di sekolah dan di gaji dari hasil pembayaran pajak bu?” pertanyaan yang sederrhana dari siswa itu yang menjadi tolak ukur bahwa siswa sudah mampu mengembangkan pemikirannya terhadap pemahaman materi pada saat pembelajaran. Pernyataan di atas sesuai dengan pendapat yang di kemukakan oleh Paul, Fisher and Nosich (1993:4) dalam Fisher (2008: 4) mengemukakan bahwa berpikir kritis adalah model berpikir mengenai hal, substansi atau masalah apa saja, dimana si pemikir meningkatakan kualitas pemikirannya dengan menangani secara terampil struktur-struktur yang melekat  dalam pemikiran dan menerapkan standar-standar intelektual padanya.

            Pada awal pelaksanaan tindakan siklus I, pendapat siswa masih sebabatas hanya informatif saja artinya mereka masih mengemukakan pendapat dengan kalimat yang sesuai dengan buku teks atau mencari jawaban pada buku teks, belum ke arah pemikiran yang sistematis. Pada pelaksanaan siklus ke II peneliti sudah dapat melihat peningkatan yang terjadi pada siswa, bahwa mereka mampu mengemukakan pendapat dengan di sertai alasan yang logis dan siswa sudah mamapu menyanggah pendapat temannya dengan tidak melukai perasaan temannya. Dan pada pelaksanaan siklus ke III, siswa sudah mampu mengidentifikasi masalah dengan mengolahnya menjadi ide pokok yang kemudian di tuangkan dalam berbagai pendapat yang logis dengan disertai alasan yang masuk akal serta taraf berpikir siswa sudah terlihat pemikiran ke arah sintesis.

            Hal ini sejalan dengan pendapat yang di kemukakan oleh Hasan (1996: 202) mengemukakan bahwa:

Pengajaran melalui isu kontroversial dalam pendidikan ilmu-ilmu sosial dianggap sangat penting. Pertama, isu kontroversial merupakan sesuatu yang dapat di jumpai dalam banyak kasus mengenai teori atau pendapat dalam ilmu-ilmu sosial. Teori-teori yang dibangun berdasarkan data lapangan tertentu seringkali dianggap tidak mewakili kenyataan di lapangan di berbagai tempat tertentu. kenyataan yang demikian selalu hidup dalam ilmu-ilmu sosial, dan oleh karena itu isu kontroversial adalah sesuatu yang alamiah dalam pendidikan ilmu-ilmu sosial….keuntungan lain dapat di peroleh melalui pengajaran dengan menggunkan isu kontroversial ialah melalui pendapat yang berbeda, orang dapat mengembangkan pendapat baru yang lebih baik. Disini terjadi proses analogis dan sisntesisi dalam berpikir. Atas dasar perbedaan pendapat itu, dinamika kehidupan akademik dan sosial terjamin dengan baik. Siswa terbiasa dengan pandangan yang berbeda akan dapat menempatkan dirinya dan menyumbangkan pemikirannya sebagai anggota masyarakat secara baik. Perbedaan pendapat yang sering mereka alami dikelas, akan pula menjadi dasar bagi mereka untuk terbiasa dengan kondisi semacam itu, sehingga ketika mereka menjadi anggota masyarakat, mereka tidak lagi merasa tersaing.

             Berdasarkan pendapat yang di kemukakan di atas bahwa pada dasarnya materi pembelajaran IPS itu banyak di temukan pada di lapangan sekitar kehidupan siswa sendiri, maka penerapan model Controverssial Issues  ini mempunyai banyak kelebihan yaitu mampu mengembangkan kemampuan berpikir siswa, mampu meningkatkan kemampuan siswa untuk mengharhgai pendapat orang lain, indokator pencapain tersebut telah di buktikan pada saat melakukan penelitian di kelas VIII-I. Dari hasil pengamatan yang telah di lakukan oleh peneliti di lapangan bahwa penerapan model Controversial Issuesdalam pembelajaran IPS dapat menumbuhkan berpikir kritis siswa di kelas VIII-I SMP Negeri 40 Bandung. Hal tersebut dapat terlihat dari peningkatan yang telah di capai oleh siswa pada siklus ke I, II, dan III dengan melihat perbandingan hasil angket.

           Pada diagram diatas dapat dilihat hasil secara keseluruhan responden dengan jumlah jawaban paling banyak 47% dalam hal ini termasuk kedalam kategori “cukup” tetapi tidak di akui peneliti bahwa dalam pelaksanaan siklus pertama ini masih banyak kekurangan.

            Untuk pelaksanaan siklus kedua peneliti melihat hasil angket yang didapat bahwa adanya sedikit perubahan kemampuan siswa dalam berpikir kritis, hal ini di tunjukkan pada persentase sebesar 55% dan dapat di tafsirkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa sudah mulai terlihat dengan di tunjukkan siswa mampu menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang relevan sesuai dengan materi yang di bahas dan mulai aktif bertanya tentang materi IPS yang diajarkan

            Pada pelaksanaan siklus ketiga terlihat adanya peningkatan yang sangat baik yaitu secara keseluruhan siswa yang menjawab angket pada silklus ketiga dengan kategori “sangat baik” berdasarkan jumlah persentase yang didapat sebesar 72% dapat di tafsirkan bahwa sebagian besar siswa terlibat langsung dalam pembelajaran IPS dengan mampu memecahkan sendiri permasalahan yang ada saat pembeljaran dikelas, berani mengemukakan pendapat didepan kelas, mampu menyanggah pendapat orang lain dan sudah mulai berpikir kritis tentang materi IPS yang dikaitkan dengan isu kontroversial yang telah disampaikan.

            Berpikir kritis sesungguhnya hal yang sangat penting untuk di ajarkan kepada siswa sejak dini. Ketika seseorang mengajukan argumen, penjelasan atau jenis penalaran yang serupa, sangat lazim baginya untuk membiarkan beberapa hal tidak di sebutkan, meskipun dia yakin hal tersebut itu benar (dapat di terima) dan relevan dengan isunya. Hampir semua argumen riil (nyata) argumen yang di gunakan atau sudah di gunakan dengan maksud untuk menyakinkan orang lain akan suatu sudut pandang. Pembelajaran keterampilan berpikir merujuk kepada pendekatan melalui strategi khusus dan prosedur yang bisa di laksanakan, serta dapat di gunakan oleh peserta didik dengan cara yang terkontrol dan sadar untuk membuat mereka belajar lebih efektif. Strategi dan prosedur menggunakan spontanitas atau di rancang secara sistematis, serta spesifik, luas atau bersifat umum.

            Robert Ennis (1985 : 22) memberikan definisi berpikir kritis adalah berpikir reflektif yang berfokus pada pola pengambilan keputusan tentang apa yang harus diyakini dan harus dilakukan.

Berdasarkan definisi tersebut, maka kemampuan berpikir kritis menurut Ennis terdiri atas dua belas komponen yaitu (1) merumuskan masalah, (2) meganalisis argumen, (3) menanyakan dan menjawab pertanyaan, (4) menilai kredibilitas sumber informasi, (5) melakukan observasi dan menilai laporan observasi, (6) membuat deduksi dan menilai deduksi, (7) membuat induksi dan menilai induksi, (8) mengevaluasi, (9) mendefinisikan dan menilai definisi, (10)mengidentifikasi asumsi, (11) memutuskan dan melaksanakan, (12) berinteraksi dengan orang lain. Maka disini dapat kita katakan, kemampuan berpikir ktitis itu terdiri atas (1) kemampuan mendefinisikan masalah, (2) kemampuan menyeleksi informasi untuk pemecahan masalah, (3) kemampuan mengenali asumsi-asumsi, (4) kemampuan merumuskan hipotesis, dan (5) kemampuan menarik kesimpulan.

            Kemampuan berpikir mengajarkan kepada guru bahwa penciptaan kegiatan belajar dan mengajar dalam meningkatkan tingkat pemikiran siswa di dorong oleh adanya penggunaan proses mental dalam belajar seperti untuk merencanakan, mendeskripsikan, dan mengevalusi proses berpikir dan belajar. Dalam hal berpikir kritis  ini mempunyai dua konotasi yang sangat penting yang mengarah pada pertanyaan isu atau masalah yang memprihatinkan. Berpikir kritis dapat di artikan sebagai “penolakan” atau pernyataan yang “negatif”. Tetapi berpikir kritis juga mempunyai makna bepikir positif, misalnya seseorang mampu merumuskan sebuah solusi yang relevan dengan permasalahan yang terjadi.

            Dalam hal ini peneliti melakukan penelitian mengenai implmentasi penerapan model Controversial Issues dalam pembelajaran IPS untuk menumbuhkan berpikir kritis siswa di kelas VIII-I, terbukti dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengemukakan pendapat serta mampu mengembangkan pemikirannya dalam pembelajaran IPS. Karena dalam pembelajaran IPS banyak permasalahan/ kasus yang dapat diangkat untuk di jadikan sebagai bahan pembelajaran di kelas.

5. Kesimpulan

            Implementasi model controversial Issues dalam pembelajaran IPS mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Siswa di nilai telah mengalami peningkatan dalam kemampuan berpikir kritisnya, hal ini dapat di lihat dari keberanian siswa dalam mengemukakan pendapat yang di sertai dengan bukti dan alasan yang jelas, mampu menjawab pertanyaan di sertai dengan alasan yang logis, dan mampu menghargai perbedaan pendapat yang terjadi dengan bersikap toleran dengan berusaha untuk tidak menyakiti perasaan temannya.

Saran

            Guru sebaiknya mempersiapkan pembelajaran secara maksimal yaitu dengan mempersiapkan silabus dan RPP sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Guru IPS dapat bekerja sama dengan guru mata pelajaran lain dalam menerapkan model controversial issues yang dimana guru IPS dapat mengintegrasikan mata pelajaran IPS yang mampu melatih kemampuan berpikir kritis siswa. Guru-guru IPS di harapkan tidak bersikap canggung dalam menerapkan model controversial issues dan beranggapan bahwa model isu-isu kontroversial ini banyak mengungkapkan hal-hal yang di anggap tabu oleh guru dan belum pantas untuk diberikan kepada siswa. (1) siswa harus lebih aktif dalam mencari bahan referensi ataupun sumber informasi terutama topik atau kasus yang sesuai dengan materi pelajaran. (2) Siswa di harapkan lebih aktif dan percaya diri dalam mengemukakan pendapat, serta berani untuk memberikan sanggahan pendapat dalam kegiatan pembelajaran dengan menggunakan kata-kata yang lebih sopan. (3) Siswa di harapkan mampu mengikuti kegiatan pembelajaran IPS dengan baik  dan tertib sehingga tercipta suasana pembelajaran yang kondusif dan tujuan dari pembelajaran dapat tercapai dengan maksimal. (4) Siswa di harapkan mampu mengindahkan teguran dan nasihat yang di berikan guru dengan baik.  Seharusnya sekolah mampu menyediakan fasilitas pendukung pembelajaran dengan baik seperti infocus dan proyektor sehingga tujuan dari pembelajaran. Agar proses pembelajaran di sekolah menjadi lebih maksimal, maka hendaknya sekolah mampu memberikan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran yang kontekstual sehingga proses belajar mengajar di kelas dapat tercapai dengan baik. Bagi peneliti yang akan melakukan penelitian tentang model controversial issues secara lebih mendalam, peneliti berikutnya diharapkan untuk menambahkan variabel sikap toleran siswa apabila akan melakukan penelitian tentang model controversial issues.

6. Daftar Pustaka

Ennis, R.H. (1985. Goals For A Critical Thinking Curriculum, Developing Minds: A Resource Book For Teaching Thinking.Virginia: ASCD.

Fisher, A. (2009). Berpikir Kritis, Sebuah Pengantar: Jakarta Erlangga.

Hassan, H. (1996). Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial. Bandung: Jurusan Sejarah IKIP.

Munandar, U. (1999). Kreativitas Dan Keberbakatan: Strategi Mewujudkan Potensi Kreatif dan Bakat. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Roestiyah. (2008). Stategi Belajar Mengajar.Jakarta:PT. Rineka Cipta.

Sapriya. (2012). Pendidikan IPS Konsep dan pembelajaran. Bandung : PT Remaja Rosdakarya Offset.

Sugiyono. (2010). Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Sumatmaja, N. (1980). Pembelajaran IPS. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendaral Pendidikan Tinggi.

Wiriaatmadja, R. (2002). Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja Rosdakarya.

oleh Nita Dyah Rahmawati (0901637)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *